Soal Salam 4 Jari, Pengamat: Nalar Memilih yang Terbaik Tidak Berdasar Jargon

INDOPOS.CO.ID – Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti berpandangan, munculnya gerakan Salam 4 Jari yang ramai di media sosial menunjukan bahwa nalar dan akal budi melaju lebih di depan. Tentu berkaiatan dengan pertimbangkan memilih calon pemimpin Indonesia.

“Nalar untuk memilih yang terbaik, tidak berdasar jargon dan klaim, tidak menjogedkan persoalan tapi mengurai dan memecahkan solusinya,” kata Ray melalui gawai, Jakarta, Senin (29/1/2024).

Menurutnya, nalar yang menyimpulkan bahwa kebaikan dan pembangunan tidak terletak pada kedekatan darah, tapi pada rekam jejak dan visi setiap orang.

“Hubungan darah tidak dengan sendirinya, membuat seseorang itu sama,” ucap Ray.

Akal budi mengajak orang untuk berdiri di jalan kekuasaan tetaplah harus digapai dengan cara-cara etis dan bermoral. Bukan cara terabas, mengabaikan kepatutan dan juga etika.

“Menggunakan kekuasaan dengan mengandaskan etik, bukanlah jalan yang diinginkan oleh akal budi,” kritik Ray.

Ia menambahkan, sinyal bagi mereka yang hendak menggapai kekuasaan dengan cara yang menghalalkan segala cara, akan selalu diadang nalar dan akal budi.

“Nalar dan akal budi yang menginginkan, Indonesia dikelola berdasar nalar atau rasionalitas dan etika atau akhlak,” ucapnya.

Gerakan Salam 4 Jari itu terciri dari lambang tangan dengan empat jari teracung. Serta dinarasikan tak memilih pasangan calon nomor urut 2. Sebab dianggap telah terjadi dugaan kecurangan dalam tahapan Pemilu 2024.

Aktivis John Muhammad yang memelopori gerakan Salam 4 Jari di media sosial X dan Instagram. Gerakan itu dapat mengurangi potensi terjadinya pilpres satu putaran, seperti yang diharapkan kubu Prabowo-Gibran. (dan)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *