Kasus Dugaan Ujaran Kebencian Arya Wedakarna, Polda Bali Periksa Tiga Saksi

INDOPOS.CO.ID – Kepolisian Daerah (Polda) Bali telah memeriksa tiga saksi terkait laporan dugaan ujaran kebencian yang dilakukan oleh anggota senator Bali, yaitu Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa, yang dikenal sebagai Arya Wedakarna (AWK).

Menurutnya, proses laporan masih berlangsung di Polda Bali, dengan tahap pemanggilan saksi-saksi.

“Proses masih berlangsung setelah tiga saksi diperiksa,” kata Kepala Sub Direktorat V Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali AKBP Nanang Prihasmiko dalam keterangan Sabtu (13/1/2024).

Nanang menyebutkan bahwa tiga saksi, termasuk M. Zulfikar Ramly sebagai pelapor, telah dipanggil dan diperiksa. Namun, Nanang tidak memberikan rincian terperinci mengenai proses pemanggilan dan pemeriksaan, termasuk hal-hal yang diperiksa dari ketiga saksi tersebut.

Terlapor dalam laporan, yaitu Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa atau Arya Wedakarna (AWK), belum dipanggil oleh penyidik.

“Terlapor belum mengalami pemanggilan. Saat ini, yang diperiksa masih berupa saksi-saksi,” ujarnya.

Laporan terhadap senator Bali AWK telah didaftarkan di Polda Bali dengan nomor register STTLP/B/10/2024/SPKT/POLDA BALI pada tanggal 3 Januari 2024.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa AWK dilaporkan karena ucapannya dalam sebuah unggahan video siaran langsung di akun media sosial Instagramnya diduga mengandung konten ujaran kebencian dan menyinggung isu SARA.

Senator Bali tersebut diduga melanggar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 156a KUHP.

Sebagai informasi, Anggota DPD RI asal Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa atau Arya Wedakarna (AWK), menjadi pusat perhatian publik setelah video siaran langsungnya tersebar secara luas.

Dalam video tersebut, AWK menyampaikan permintaan agar staf penyambut tamu atau frontliner di Bandara Ngurah Rai merupakan warga asli Bali yang tidak menggunakan penutup kepala. Pernyataan tersebut disampaikan oleh AWK dalam rapat bersama Komite 1 DPD RI bersama jajaran Bandara Ngurah Rai, Kantor Wilayah Bea Cukai Ngurah Rai, serta instansi lainnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai pada Jumat, 29 Desember 2023.

Potongan video AWK yang menjadi alat bukti dalam laporan oleh pelapor dianggap dapat menyebabkan perpecahan di antara umat beragama di Bali. Ucapan tersebut juga memicu unjuk rasa yang dilakukan oleh 200 Muslim di Bali beberapa hari lalu.

Laporan terhadap AWK tidak hanya diajukan di Bali, namun Majelis Ulama Indonesia Bali juga melaporkan dugaan ujaran kebencian yang dilakukan oleh AWK ke Bareskrim Polri. (fer)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *