Food Estate – www.indopos.co.id

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOS.CO.ID – Intensifikasi atau food estate? Tergantung tujuannya. Untuk  jangka pendek: intensifikasi. Kalau jangka panjang: food estate. Untuk jangka SANGAT pendek mengatasi kenaikan harga beras yang tertinggi saat ini: impor.

Atau bukan semua itu.

Yang diperlukan mungkin lebih serius dari itu: mengubah tata cara budidaya padi kita. Dari perseorangan ke pertanian kelompok. Pertanian padi kolektif. Dikelola secara korporasi.

Itu tidak ada dalam debat program capres yang lalu. Tapi persoalan beras kita akan terus semakin rawan. Mulut kian banyak. Tenaga kerja kian berkurang.

Sesekali jadilah petani padi: begitu sulit mendapat tenaga kerja di sawah. Tenaga pengolah tanah. Pun sampai tenaga panen.

Memang sudah banyak sapi yang dijual: dibelikan traktor. Tapi si pemilik traktor jadwalnya juga penuh. Akibatnya: sulit mengolah tanah tepat waktu. Tergantung jadwal traktor.

Tenaga tanam? Lebih sulit lagi. Mesin tanam padi? Perkembangannya sangat tidak menggembirakan. Waktu 10 tahun seperti lewat begitu saja. Di teknologi lain dalam waktu 10 tahun perkembangannya sudah sangat maju. Di mesin tanam seperti jalan di tempat. Bahkan mundur.

Pabrik mesin tanam yang di Mlilir, dekat Ponorogo, itu misalnya. Bukan saja tidak berkembang. Justru tutup.

Dua kali saya pernah ke sana. Zaman ITU. Saya dorong ia untuk terus berkembang lewat order dan order. Lima tahun kemudian saya ke sana lagi. Sebagai orang biasa. Saya hanya bisa mengelus dada.

Mesin panen pun tidak berkembang semestinya.

Dari kacamata petani, harga beras Rp 18.500 sekarang adalah harga bagus. Belum sangat bagus. Baru  bisa menutupi biaya-biaya yang kian mahal. Termasuk pupuk dan terutama tenaga kerja.

Bagi petani yang minggu ini bisa mulai panen, tentu sempat menikmati harga bagus tersebut. Misalnya di beberapa tempat di Sragen. Sudah ada pedagang yang mau membeli GKP Rp 8.000/kg. Anda sudah tahu GKP: Gabah Kering Panen. Yakni gabah dari padi yang sudah tua. Sudah waktunya dipanen. Belum dijemur.

Dengan harga beli GKP setinggi itu, maka tidak mungkin harga beras bisa di bawah Rp 18.000/kg. Anda kan sudah hafal rumusnya: satu kuintal GKP akan menjadi 50 kg beras.

Saya hubungi tokoh petani di Sragen kemarin sore. Saya kaget: seminggu lagi sudah ada yang panen di sana. Alhamdulillah. Berarti akhir bulan depan sudah panen raya. Tidak sampai dua bulan lagi seperti yang saya perkirakan di Disway kemarin.

Maka harga tinggi saat ini adalah persoalan jangka sangat pendek. Harga beras segera turun satu bulan lagi. Pedagang yang telanjur membeli GKP Rp 8.000 akan tetap jual beras sekitar Rp 18.000. Sebulan ke depan. Kejar laba jangka pendek.

Setelah itu harga beras turun.  Persoalan mendasar pertanian beras kita pun akan dilupakan lagi.

Saya tidak tahu seberapa tertarik presiden baru kita atau wakilnya memulai cara baru sistem pertanian kita: sistem kelompok korporasi.

Baiknya memang diuji coba dulu di Jawa. Tiap satu kabupaten satu SKK. Kalau hasilnya baik langsung dikembangkan.

Caranya: dimulai dari pembentukan kelompok tani berdasar hamparan lahan. Satu kelompok 300 hektare. Di satu hamparan. Lahan itu mungkin milik 600 atau 700 petani.

Petani tersebut menyerahkan lahan mereka ke pengurus kelompok. Untuk digarap oleh pengurus kelompok. Daripada dikerjakan sendiri-sendiri secara tidak efisien. Petani pemilik tanah boleh bekerja di situ: dibayar oleh kelompok.

Maka sawah 300 hektare tersebut diolah secara modern: mekanisasi pertanian. Jadwal garap, jadwal pembibitan, jadwal tanam, jarak tanam, pemupukan, perawatan;  semua dilakukan secara ilmiah. Disiplin tinggi.

Apakah petani mau menyerahkan tanah mereka?

Mau. Berikanlah jaminan: hasil minimalnya 6 ton/hektare. Kalau perlu separonya dibayar di depan. Kurang dari itu menjadi tanggung jawab kelompok. Kalau hasilnya bisa 10 ton/hektare, selisihnya dibagi dua dengan petani.

Presiden bisa melombakan proyek ini. Bupati terbaik dapat Piala Presiden. Pun kelompok taninya: diundang ke istana. Dipahlawankan.

Inilah food estate gotong royong. Hasilnya akan jauh lebih hebat dari food estate biasa. Juga lebih baik dari usaha intensifikasi yang mana pun.

Inilah food estate sekaligus intensifikasi. Two in one.

Tapi program seperti ini ‘’hanya’’ penting. Tidak ‘’menarik’’ bagi siapa pun, termasuk Anda. Terutama karena Anda tidak akan dapat ceperan sekecil apa pun dari sana. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 26 Februari 2024: Beras Bansos

Lagarenze 1301

Ha-ha-ha, besok dicoba lagi, Kang. Ini selisihnya hanya bebeapa detik. Kalo nggak bikin kopi dulu pasti berhasil. Tapi, ada saingan berat Kang Sabar: Udin Salemo, Rizal Falih, M Zainal Arifin, Bitrik Sulaiman.

Lagarenze 1301

┊┊┊┊╭╯╭╯┊┊┊ ┊╱▔╭╯╭╯▔╲┊┊ ▕╲▂▂▂▂▂▂╱▏┊ ┊▏┈╱╲╱╲┈▕━╮ ┊▏╲Disway╱┊  ┃ ┊▏┈┈╲╱┈┈▕━╯ ┊╲▂▂▂▂▂▂╱┊┊   NGOPI RONG Alhamdulillah..

djokoLodang

–o– Abah menulis bahwa fleksibilitas bersumber dari ekspektasi. Betul. Harapan dan keinginan terkait dengan kebahagiaan. Bahagia berarti tidak menderita. Bagaimana agar tidak menderita? Jangan terlalu banyak berharap. Atau terlalu banyak keinginnan. Keinginan yang tidak terpenuhi, itu lah sumber penderitaan. –jL–

Jo Neca

Bait terakhir..Perut melilit tiada makanan.Membuat saya ingin menangis.Ingat tahun 1966..Mau makan apa.Singkong jangankan umbinya daunya pun tak ada..Harap bansos dari mana??

djokoLodang

— Pliket ketan atau pliket canthel? Ada yang menjawab: Tidak ada itu, yang ket-ketan atau kecanthel. Dari sononya, memang sudah gumantung. Bukan kecanthel. Terlihat gumantung itu pun, saat tidak diperlukan. Saat diperlukan, Anda sudah tahu. Bisa seperti situs Tadulako yang di belakang foto Mayjen Farid kemarin. –jL–

djokoLodang

–o– TRAGEDI BERAS Baru saja melihat berita di iNews TV. Di Pasuruan, tiga anak balita ditinggal di rumah. Orangtuanya ikut antre beras murah. Anak-anak itu bermain di sungai dekat rumah. Satu di antaranya tenggelam. Di tempat lain, masih di Indonesia, seorang balita terlepas dari gendongan ibunya saat berdesak-desakan antre beras. Walau pun anak balitanya terpisah, sang ibu tidak berusaha mencarinya. Masih tetap antre beras. Syukurlah, balita itu “ditemukan” 3 jam kemudian. Semoga Pemerintah sigap menangani kelangkaan beras ini. –jL–

Wilwa

@Liam. Jokowi itu seperti Deng Xiao Ping. Deng tahu banyak kader partai yang korup hingga mahasiswa demo di Tian An Men. Deng memikirkan cara bagaimana memanfaatkan kekayaan koruptor yang elit partai sembari mencari orang yang tepat untuk memberantas korupsi di level di bawah elit oligarki partai komunis. Deng menemukan Zhu Rong Ji. Sehingga Tiongkok bisa maju dalam ekonomi dan penegakan hukum, aman tentram damai Sentosa seperti yang sering digambarkan Juve. Tapi itu semua melalui proses berliku dari seorang Deng Xiao Ping. Bapak Reformasi Meiji Ala Tiongkok. Franklin Delano Roosevelt nya Tiongkok. Dan saya melihat Jokowi persis seperti saya melihat Deng Xiao Ping.

Liam Then

Pak DI mancing-mancing saya gacor soal beras lagi. Saya jadi gatel, mau tahan, tak tahan juga. Pak DI tulis beras Harbin yang paling enak. Salah…!!! Beras yang paling enak itu beras yang di kasih, tak perlu beli. Coba deh, tanya Ko Juve. Menurut beliau beras yang dikasih , bahkan bisa jadikan menang pilpres, ta’ iye…jadi sangsi apalagi, tentang beras yang paling enak? Sudah tahunan tetap saya tak bosan-bosan. Indonesia sebagai negara agraris dan maritim, harus mandiri pangan. Lautnya di bancaki, tanah ratusan ribu hektar dikapling-kaplingi, jadi punyanya seorang, petani pangannya, dapat cuma lahan sakucrit, harga pangan kayak roller coaster harganya, Iyah kayak roller coaster , naek turun harganya setiap tahun seperti terjadwal. Ndak bosan kah? Sekarang bukan seperti zaman kuno dulu, apa-apa harap kemurahan alam. Dulu kalau alam mengamuk, gagal panen sekian, sekian yang mati kelaparan. Sekarang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, apapun bisa dikerjakan, asalkan ada kemauan. Di Tiongkok sana, padang pasir jadi ladang sayuran. Di kita sini tongkat tinggal dicucuk hidup, orang antri beras, piye… Bagi negara Agraris, visi negara maju, tanpa kemandirian pangan, itu seperti duren yang dikata mantab oleh penjualnya, tapi pas pulang dibuka, ketawa semua bijinya. Sarjana pertanian bejibun, malah banyak kerja di bank. Ini udah realita yang kebangetan. Di Amerika, lahan pribadi petani begitu luas, sampai butuh pesawat untuk semprot pestisida. #ngomel terus.

yoming AFuadi

Dulu beberapa saat setelah masa mBahDI mengalami masa paceklik karna hujan deras mengguyur, padi di sawah belum panen, tepung gaplek nggak kunjung kering, nggak ada bansos karna belum saatnya pilpres, saya pernah mencoba melakukan puasa tidak makan nasi selama 40 hari. Yg dikonsumsi apa saja selain nasi beras, buah (belum masanya durian), sayuran, kelapa, ketela, ikan hasil mancing di sungai namun tidak ada daging karna waktu itu konsumsi daging ayam hanya saat lebaran, bisa bertahhan tanpa sakit yg berarti. Selain lidah tak bertulang yg perlu diajari fleksibilitas pangan, juga lambung perlu diajari fleksibilitas atas diversifikasi pangan.

Xiaomi A1

“Viral Caleg PKB Sampang gegara Suaranya Nol Bahkan di TPS Sendiri” (detik) Ternyata yg ditulis Abah tentang model pileg seperti di madura benar adanya..wkwk

Liam Then

Makasih @ Bang Wilwa, saya suka dengan simbolisasi penyusun kata pada aksara Mandarin. Di huruf 米. Saya melihat ada lihat unsur huruf “api”, “kayu” dan “orang” , “besar”. Kalo mau diada-adain, cocoklogi, ini mirip unsur pendukung kehidupan. Dan sebagai bahan makanan pokok, ini simbolisasi yang benar-benar cocok sekali kalo dipikirkan.

Wilwa

@Liam. Aksara 有家鲜米 maksudnya? Have 有 Family 家 Delicious 鲜 Rice 米. Filosofinya? Have atau You 有 gabungan dari kata Tangan 手 dan Daging 肉 yang kemudian entah bagaimana Meat 肉berevolusi menjadi simbol Moon 月 dan simbol Hand 手 disingkat menjadi seperti sepuluh 十 tapi dengan garis vertikal yang miring seperti yang ada dalam aksara kanan 右 atau kiri 左. Itu history aksara You 有 yang artinya ada atau punya. Lanjut ke aksara Jia 家 yang artinya rumah atau keluarga.

Wilwa

Harbin Rice. Hmmmm. Ini pasti terkait dengan YLP. China Rice Hero. Yuan Long Ping 袁隆平. Yuan the Equal 平 and Prosperous/Abundant 隆. Apalah arti sebuah nama. Tapi orang marga Yuan 袁 ini memang faktanya berhasil mengembangkan padi yang panennya berlimpah 隆. Dan tak hanya berlimpah panennya tapi juga enak rasanya. YLP mengembangkan varietas padi YLP9 yang bisa menghasilkan 15 ton rice per hektar. Simak Harbin The Capital City of China’s High Quality Rice. Anyway, karya YLP itulah yang membuat Manchuria (Liao Ning, Ji Lin, Hei Long Jiang) menjadi pusat produksi beras Tiongkok. Dan membuat Tiongkok swasembada beras bahkan bisa ekspor walau tak banyak karena demand beras dalam negeri yang terus meningkat. Ko Liam mungkin bisa nggacor untuk ini. Kapan hari saya pernah baca di Disway mengenai bibit unggul padi yang panen per hektarnya berlimpah

thamrindahlan

Beras Bansos. Entah kebetulan entah tidak, kosa kata Beras memiliki saudara kembar 3. Beras, Besar dan Sebar. Pesan terkandung dari 3 saudara kembar itu : ” jangan pernah memisahkan mereka” Takdir kembar diikuti sehati, sejantung dan saling mempengaruhi satu sama lain. Apabila salah satu dari mereka bermasalah maka masalah itu akan dirasakan kembaran. Misalnya akhir akhir ini Beras langka (?). Terbukti harga mahal sehingga Buloq turun kaki menjual beras murah. Antrian panjang emak emak. Jadi seharusnya keberadaan Beras itu wajib di sertai dengan Besar (banyak) jumlah dan ter Sebar merata di seluruh nusantara. Benar sekali Abah. Indra pengecap manusia fleksibel. Kami asal Pulau Andalas khusus Minangkabau memiliki lidah dengan rasa rendang. Ketika merantau ke Pulau Jawa maka indra pengecap menyesuaikan rasa walau perlu proses panjang bertahun tahun. Pengalaman menikmati makan di warteg disuguhi lauk beragam. Bagaimana rasa apalgi disuguhi minuman teh manis. Aneh , Lidah ini sepertinya protes. Benar deskripsi Abah. Beras harus ada dan tersedia di dekat dapur untuk stock minimal 3 hari. Aman. Ketika kondisi saudara dhuafa untuk sekali makan saja tidak ada maka Bansos diandalkan walupun antri. diharapkan. Beras ditanak menjadi nasi. Bisa pula menjadi bubur. Mungkin juga menjadi ketupat lebaran. Uda Udin Salemo tentu hapal lagu Bareh Solok dipopulerkan Uni Hj Elly Kasim . Saking enak Beras Solok sampai “tidak nampak mertua lalu” Salamsalaman

Wilwa

@YA. Believe it or not. Amerika tidak menghitung inflasi atau deflasi dari sektor food & energy. Aneh memang. Mungkin semacam akal-akalan agar inflasi terlihat rendah. Tapi di luar sektor food dan energy, inflasi atau deflasi dihitung. Jadi data inflasi atau sebaliknya deflasi ala Indonesia sebenarnya lebih all in ketimbang data inflasi atau deflasi di Amerika. Jadi drama food dan inflasi Amrik itu lebih parah dari negeri konoha (istilah Anies).

Udin Salemo

BERAS BAGUS Selesai makan di rumah makan yang lagi viral di BSD milik seorang youtuber. Seorang teman iseng bertanya. Kenapa harga makanan di situ rada mahal. Jawaban dari orang dalam, beras yang dipakainya beras bagus dan enak impor dari kampung halaman (Padang). Ketika selesai makan di warteg langganan di daerah Serpong saya bertanya ke pemilik warteg. Apa resep warung tetap ramai. Mas Heri pemilik warteg menjawab: selalu memakai beras yang bagus bercita rasa enak. Walau sedikit mahal tak apa-apa asal pelanggan puas. Setiap disuguhi makan di rumah teman satu kampung yang tinggal di Ciledug Tangerang, selalu pengen nambah. Nasinya enak. Enaknya seperti nasi di kampung. Saya tanya yang dia masak beras beli darimana. Jawabannya sungguh bikin melongo. Katanya khusus untuk tamu teman sekampung selalu dimasak nasi yang berasnya berasal dari kampung kami nun jauh di Solok sana. Dia rutin beli beras “impor” dari kampung kami. Ada satu orang kampung kami yang khusus jualan beras itu. Dijamin keaslian beras itu asal dari kampung kami. Orang tua sipenjual beras punya pabrik huler (rice milling unit) di kampung. Pagi ini disuguhi cerita seseorang yang pernah jadi sesuatu. Tamunya disuguhi nasi. Setiap tamu makan hanya makan nasi sedikit. Nasinya kurang enak. Kata tamunya. Padahal beras rojolele kalau dibuat nasi untuk tamu itu akan menuai pujian setinggi langit untuk tuan rumah. Apalagi kalau dihidangkan sekalian masakan ikan wang bu liao. Mungkin situan rumah lagi diet karbo.

Yellow Bean

Kebetulan orang tua memiliki sepetak sawah. Pemikiran orang tua kami dulu sangat sederhana. Takut anak nya merantau jauh. Katanya supaya menggarap sawah jadi tidak diijinkan melanjutkan sekolah keluar kampung. Padahal tetangga kami sudah ada yang sempat menjadi Menparpostel era Pak Suharto. Pemikiran masa lampau yang harus di ubah dengan semangat mengijinkan Anak melanjutkan pendidikan tentu nya.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

“IMPOR BERAS” DARI JAWA.. Tahun 80an, sampa 1989, saat itu saya rutin ke Padang karena tugas audit. Sekali datang waktunya sampai 3 minggu. Saat itu, di umur itu, saya masih “SEMEGO”. Artinya, kalau makan “nasi” atau “sego”, harus banyak. Apalagi lauknya “padang”. Tapi di jaman itu, di Padang tidak ada beras “enak”. Yang ada hanya beras yang “kemrotok”. Saat saya kangen beras “pulen”, saya cari di seluruh Padang, tapi tidak ketemu. Tahun 2015 saya ke Padang lagi. Ternyata, di tahun itu banyak RM di Padang yang sudah menyediakan “beras pulen”. ### Dari pengàlaman, lauk “padang” itu cocoknya ya dengan beras “kemrotok”. Beras pulen tidak cocok untuk RM Padang. (Sst.. Tapi jangan percaya saya. Ini hanya curhat seorang kakek).

Jokosp Sp

Bagi rakyat kismin yang lebih mahal sebenarnya harga ngantrinya, tidak sekedar berasnya. Gas melon untuk dapat satu tabung harus berjam-jam dan ada budged memfoto copy ktp. Dan mendapatkan beras 10 kg apalagi?, harus mau disebut rakyat kismin yang antri di balai desa. Harga diri yang jadi dagangan ketika harus melubangi satu suara capres dan wakilnya juga calog legislatifnya yang entah ke mana sesudahnya.

Beny Arifin

Gimana ngga enak, beras di Jepang harga termurah sekitar 500¥/Kg. Sekitar 55.000 rupiah kurs sekarang. Putih, pulen, wangi. Dimakan pake kerupuk juga sudah enak. Dibanding bahan makanan lain, beras yang paling mahal. Sementara, telur, saging ayam, ikan, udang harganya krg lebih sama dengan di Indonesia.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

“HOST DISWAY ERROR”.. Kadang pas lagi asyik “berdisway ria”, tiba-tiba muncul tulisan: “Bad gateway”. “Error code: 502”. Lanjutannya: host error. Padahal yang lain baik. 1). Browser: working. 2). Singapore cloudfare: working. ### Berarti penjaga host Disway yang harus “turun tangan” memperbaiki. Bukan turun tangan “menjelaskan”. Meski gratis.. He he..

Lagarenze 1301

Makan yang paling enak adalah saat berada di desa. Beras yang dimasak hasil panen. Tidak pakai rice cooker, tapi kuali tanah liat dengan api dari kayu bakar. Tambah enak dengan lauk ikan kering hasil tangkapan di sungai, dibaluri minyak kelapa yang bukan minyak sawit. Di piring lain ada kangkung tumis. Cukup tiga macam saja. Oh, bisa tambah satu macam lagi. Cabai merah segar. Tak perlu diulek. Langsung gigit sepotong demi sepotong. Sungguh nikmat yang tiada tara ketika makan saat perut sedang keroncongan, di bale-bale pinggir sawah, di tengah harumnya lumpur tanah, dan gemericik air dari pancuran. Berbahagialah kita yang pernah tinggal di desa yang benar-benar desa.*

Xiaomi A1

Jadi kepikiran..sebenarnya Abah mo komplain soal nasi di rumah..tapi gak berani..akhirnya ada kesempatan melalui komplain dari tamu..wkwk

Lagarenze 1301

Santai sejenak. Seorang pengusaha berkonsultasi ke teman pengacaranya atas kasus hukum yang membelitnya. Pengusaha itu sedang membangun perumahan di atas lahan yang belakangan diketahui milik orang lain. Pemilik lahan telah menggugat dan menuntut agar rumah-rumah tersebut dibongkar. Pengacara dengan tenang menjelaskan bahwa si teman salah, seharusnya ia tidak membangun rumah sebelum memastikan status lahan. Pengacara menyarankan agar si teman menyelesaikan masalah di luar pengadilan untuk mengurangi kerugian. “Bagaimana jika saya mengirimkan satu mobil terbaru kepada ketua majelis hakim sebagai hadiah?” tanya pengusaha. Pengacara menggeleng. Ia menjelaskan bahwa ia mengenal hakim tersebut yang merupakan simbol keadilan. Pengusaha tersebut pasti akan kalah dalam kasusnya jika ia mencoba menyuap sang hakim. Beberapa bulan berlalu, pengusaha itu mengunjungi kembali teman pengacaranya untuk menyampaikan kabar baik. Dia telah memenangi kasusnya! Pengacara tidak percaya karena kasus itu sangat terang benderang dan si teman dalam posisi yang salah. “Bagaimana bisa?” tanya pengacara. “Saya mengirim ke Pak Hakim satu mobil baru sebagai hadiah.” “Tidak mungkin…,” pengacara menggeleng. “Atas nama lawanku,” timpal pengusaha.*

Jokosp Sp

Nginap di rumah kakak di sebuah desa di lereng Gunung Prau, yang pas rumahnya depan balai desa. Berseberangan jalan raya saja. Sore ada truck masuk ke parkiran balai desa tadi dan melakukan bongkar beras bulog. Saya nanya ke kakak ” berapa jatah beras per keluarga miskin? “. 10 kg dik. “Ada mbayar mbak, berapa sekilo?”. Gag mbayar, cuma 10 ribu ke aparat desa. Nggag tau buat apa. “Jadi hitungan matematisnya 1kg = 1,000 rupiah ya?”. Ya mungkin segitu. Kakak kan gag dapat karena seorang pensiunan kepsek keduanya. Pembagian rutin yang ditunggu mereka, yang diharap rakyat kismin. Mereka belum perlu yang enak dan empuk, lebih penting yang mengenyangkan. Dan tersedia tiap hari. Sesederhana itu saja.

Handoko Luwanto

Jika pak Pryadi benar undur diri, sy kehilangan bahan renungan gimana bersikap mengatasi ujaran kebencian. Ibarat ada seorang melaksanakan open house, lalu ada salah 1 tamunya berlaku tidak sopan di dalam rumahnya. Sudah untung tidak diusir, malah si tuan rumah tetap memberlakukan si tamu tsb dg hormat. Dan….itu tidak terjadi dalam 1-2 kali even, tapi hampir tiap hari di rumah yg sama.

Handoko Luwanto

01:02:17pm WIB 124Komen=62utama+62REPLY dari 35Prusuh ♢Urutan↕Komen➜Nama Time ∇103↓u➜Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺 2j “”HOST DISWAY ERROR”.. …” ∇111↓R→Handoko Luwanto 1j “Ya pak @Agus Suryonegoro III – �…” ∇123↑R→Ⓐⓖⓤⓢ Ⓢⓤⓡⓨⓞⓝⓔⓖⓞⓡⓞ ⒾⒾⒾ – 阿古斯·苏约诺 4m “@Handoko Luwanto Sama.. Sa…” ₪₪₪₪§|(ΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞ> 123

Juve Zhang

Pedagang pake motor jualan telor di goreng…pake tusuk sate…di gulung telornya…1000 per tusuk…tahun lalu sanggup 500 tusuk …. sekarang 2024 cuma 300 tusuk… masuk 2024 semua tukang dagang keliling pusing pembeli pada menghilang…….tanya warung sembako…. jawab nya sama….omset turun drastis….ada apa ya??? Toh pilpres sudah selesai….aman….gak ada tegang seperti 2019………satu jawaban pasti Inflasi……inflasi membunuh ekonomi apapun aliran ekonomi negara itu…..kalau anda sekarang dagang apapun dagang nya dan sepi maka itu artinya sama ……anda di hantam musuh ekonomi bersama….yaitu Inflasi……. rakyat sedang susah….jadi anda harus jualan kurangi untung nya….sampai batas yg masih ada Cuan…..tanya lagi sama kurir dagang Online….. jawaban sama….. penurunan jumlah pengiriman barang….. nampaknya inflasi menggerogoti semua jenis perdagangan……

Afa

Singkatnya disebut: 壹村人 yī cūnrén (satu wong ndeso). Lengkapnya: 哈尔滨壹村人农业有限公司 Hā’ěrbīn yī cūnrén nóngyè yǒuxiàn gōngsī (Harbin Yicunren Agriculture Co, Ltd.) Didirikan tahun 2016. Beli bibit unggul dan pupuk organik dari Akademi Ilmu Pertanian Heilongjiang. Standarisasi seluruh proses penanaman hingga penyemaian, penggilingan. Dipantau cctv 24 jam 7 hari seminggu.. Hanya dijual online via WeChat. Pengiriman ke seluruh provinsi Tiongkok dijamin sampai dalam 72 jam. Pemasaran juga melalui sistem membership. Dibuatkan kanal video sesuai merk nya : 有家鲜 Yǒu jiā xiān. Kartu membernya pun dinamakan: 有家鲜米卡 Yǒu jiā xiān mǐ kǎ Sepertinya begitulah kira-kira yang mau disampaikan oleh foto ilustrasi artikel di atas: Beras Harbin.

Wilwa

@Juve. Kalau rajin nengok data-data World Bank, saving rate dibanding GDP kita lumayan. Angkanya di 35%. Lebih tinggi ketimbang Amrik yang 17%. Tapi Lebih rendah ketimbang Tiongkok yang 45%. Tapi angka 35% itu angka “makro”. Jadi tak bisa jadi patokan bahwa SETIAP orang Indonesia menabung 35% penghasilannya. Dan masalah data “mikro” memang masalah yang krusial di Indonesia. Ke depan siapapun yang berkuasa harus membenahi masalah data “mikro” mulai dari data penduduk miskin sampai data kesehatan, pendidikan, sampai kalau bisa penghasilan (untuk keperluan pajak misalnya) dan pengeluaran (untuk mengetahui jenis dan pola konsumsi rakyat NKRI)

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

ABAH UDAH SERING PAKAI ISTILAH “MENGGUTUS” – TAPI SAYA TETAP BELUM YAKIN ARTINYA.. Hujan MENGGUTUS sepanjang jalan. Kemarin pagi. Belum sarapan. Target saya: pukul 10.00 sampai di Singkawang. Bisa langsung early lunch: telur dadar tiram, cah okra, pare-udang dan ayam rebus. Sayur itu dimasak gaya Tiuchu atau Hakka. Ini bukan pertama saya mengemudikan mobil Pontianak – Singkawang. Tapi baru kali ini sampai 3,5 jam. Rekor masa lalu saya 2,5 jam. Saya parkir di dekat Kelenteng Kuning di pusat Kota Singkawang. Hujan masih tetap MENGGUTUS. Saya lari ke toko emas Batavia. Ada sahabat Disway di situ: William, si pemilik dua toko emas di satu kota. “Carikan masakan Tiuchu paling enak. Ini lapar sekali. Belum sarapan pula,” ujar saya. William pun membawa saya ke satu restoran Tiuchu tidak jauh dari tokonya. Tiba-tiba William membuat video call. Ia bicara dalam bahasa yang saya tidak mengerti artinya. Begitu tersambung William menyerahkan HP ke saya. Maksudnya, Anda sudah tahu: agar saya bicara dengan yang di layar HP itu. “Bekas wali kota,” katanya sambil menyerahkan HP. “Bekas?” saya balik bertanya. “Dua minggu lalu sudah tidak menjabat wali kota lagi,” jawabnya. ### Begitulah tulis Abah, sekian ribu jam yang lalu. Yang juga sudah pakai kata MENGGUTUS. Dan saya tetap tidak tau arti kata sebenarnya. Biar saja. Tidak menggangguku..

Warung Faiz

Mbak @RU mungkin biar surplus beras caranya selain impor beras ada baiknya impor jg pejabatnya…hi..hi..

 

Rihlatul Ulfa

Saya diolok-oleh di tiktok, saat mengatakan ‘saya biasa memakan beras premium’ mereka mengolok dengan kata ‘iya sipaling premium’ ‘berarti anda orang kaya dong’ ‘saya mah makan beras apa aja, yg penting kenyang’ ‘saya pertalite mba berasnya’ dll, celakanya mereka yang mengolok-olok adalah orang yang belum pernah mencoba beras premium. Apakah pemerintah cukup berhasil dalam hal ini? membuat lidah orang Indonesia kebanyakan tidak mengetahui kualitas beras yang mereka makan, hanya , cuma dari harga yang mereka tahu.

Udin Salemo

#everyday_berpantun Pergi berwisata ke Pulau Bangka/ Jangan lupa membeli keritcu/ Beras sudah mahal lagi langka/ Harga menggila selesai pemilu/ Enak es campur buah lontar/ Pesanan dari pelatih binaraga/ Bagi kebanyakan rakyat proletar/ Sembako murah serasa surga/ —————————————————— makan durian dicampua katan/ dibali dari lapau Sutan Mangkuto/ manakua denai sadang bajalan/ takana katiko kito sadang bacinto/ pai mandaki gunuang Marapi/ baok kawan untuk maota-ota/ ado2 sajo kalakuan urang kini/ bialah lapa asa lai bisa bali kuota/

DeniK

Harbin Oplos Hil yang mustahal mendapatkan beras sekelas Harbin di negeri dongeng. Semua merk yang ada embel-embel premium ,cianjur ,segon .pulen dll Isinya sudah di oplos oleh oknum pedagang agar dapat cuan lebih besar.jadi yang beredar kebanyakan beras oplosan berlabel premium.

Rizal Falih

Sebagai pecinta nasi padang, sudah barang tentu saya juga suka dengan berasnya. Bareh Solok. Setau saya, nasinya juga tidak punel ataupun wangi. Melainkan justru pera, tidak pulen dan lengket. Tapi disitulah nikmatnya makan nasi padang. Dengan siraman kuah, bumbu rendang dan sambal hijau atupun merah yang pedas. Makan dengan lauk telur barendo pun sudah maknyus. Makanlah dengan tangan langsung, jangan memakai sendok garpu. Sensasinya berbeda. Beras asli Bajar pun, setau saya tidak pulen. Berasnya kecil-kecil dan jika dimasak terasa buyar alias pera. Cocok jika dimakan dengan ikan patin atau haruan bakar. Endol surendol tak kendol-kendol. Jika di Makassar, buras atau burasa, menjadi makanan pendamping favorit untuk berbagai olahan makanan. Seperti coto, konro dan makanan berkuah yang lain. Buras terbuat dari beras yang dimasak dengan santan dan dibungkus dengan daun pisang. Saat disantap, harum daun pisangnya, menambah kenikmatan makanan.

Liam Then

20 tahun lebih sudah lewat pasca reformasi. 20 tahun lebih masa yang cukup lama, untuk bentuk karakteristik demokrasi ala Indonesia, kecirian perilaku pilihan masyarakat dalam hal pilihan pemimpin. Ayo lihat pola pergantian pemimpin di Indonesia, kita bisa tarik kesimpulan, memori demokrasi di kalangan rakyat Indonesia, sudah terbentuk matang dan dewasa. Jadi ayo terima hasil pemilu, move on. Tetap kejar harapan perubahan, dan pinta itu ke pemerintah sebagai pemegang mandat rakyat. Kita bisa pinta, galang suara dan pendapat, kemukakan secara konsisten, sampai ia (perubahan) itu sampai dan menetap dalam memori masyarakat banyak, menggugah

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *