Dinasti Politik Rusak Demokrasi, Aliansi Mahasiswa Jambi Unjuk Rasa Tolak Putusan MK

INDOPOS.CO.ID – Gelombang unjuk rasa menentang keputusan Mahkamah Konstitusi mengenai batas usia Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden terus berlanjut, salah satunya juga dilakukan Aliansi Mahasiswa Jambi.

Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Jambi menggelar unjuk rasa di kawasan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jambi, Senin (23/10/2023).

“Aliansi Mahasiswa Jambi bergerak hari ini menuntut DPRD untuk tidak mengesahkan (menolak) keputusan MK yang di mana telah dicawe-cawekan oleh Presiden Jokowi hari ini,” kata Koordinator Aliansi Mahasiswa Jambi, Reza Kurniawan.

Dalam keterangan persnya, dia menjelaskan sikap para mahasiswa menentang keputusan MK yang dituding memuluskan pencalonan anak Presiden Joko Widodo yakni Gibran Rakabuming Raka menjadi Calon Wakil Presiden.

Kecurigaan masyarakat terbukti saat Wali Kota Solo itu ditetapkan menjadi Cawapres untuk mendampingi Capres Prabowo Subianto, tak lama setelah MK mengeluarkan keputusan tersebut.

Dalam keputusannya, MK diakui memang menetapkan batas usia minimal Capres-Cawapres pada usia 40 tahun tetapi mereka juga membolehkan calon berusia di bawah 40 tahun dengan pengalaman sebagai kepala daerah.

“Besar harapan kami agar keputusan ini digagalkan hari ini. Bahwasanya, dinasti politik bakal terjadi (akibat keputusan MK tersebut). Itu yang tidak kami inginkan hari ini,” ujar Reza menegaskan.

Pencalonan anak Presiden Joko Widodo itu disebut sebagai upaya melanggengkan dinasti politik keluarga Jokowi, sehingga hal itu dinilai merusak demokrasi di Indonesia.

Para mahasiswa berpendapat bahwa dinasti politik berpotensi menciptakan kekuasaan yang diktator apabila tidak dicegah dan dihentikan saat ini, sebelum pihak-pihak terkait menjadi pimpinan negara.

“Kami siap berjuang (berunjuk rasa dalam situasi) hujan, mati kepanasan di sini untuk memperjuangkan hak rakyat hari ini. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!,” kata Reza menyemangati teman-temannya.

Menurutnya, keberadaan dinasti politik itu juga bertentangan dengan semangat reformasi yang menghentikan kediktatoran penguasa pada masa orde baru yang lalu.

Sehingga, pencalonan Gibran menjadi Cawapres mendampingi Capres Prabowo Subianto disebut sebagai kemunduran reformasi yang sudah susah payah dilakukan selama 25 tahun terakhir di Indonesia.

Aksi para mahasiswa kali ini dimulai dengan berjalan kaki dari Universitas Jambi (Unja) Telanaipura ke simpang 4 BI Kota Jambi. Setelah berorasi di sana, massa pun bergerak ke Gedung DPRD setempat.

Namun, keinginan para mahasiswa untuk menemui pimpinan DPRD tidak bisa dikabulkan sehingga mereka pun mengancam akan menggelar aksi lanjutan yang lebih besar. (srv)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *